MARKET
Rabu, 7 Oktober 2026
WALL STREET CETAK REKOR, PASAR MENANTI ARAH FED DAN RISIKO HORMUZ
Saham teknologi terus mencetak rekor seiring turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed, sementara gold mulai stabil, dolar terkoreksi dan oil kembali naik akibat meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz.
EURO MULAI PULIH, DOLAR KOREKSI SETELAH YIELD TREASURY MENURUN
Pasar mata uang mulai menunjukkan perubahan setelah dolar AS mengalami koreksi dari level tertinggi hampir 18 bulan. Dollar Index turun sekitar 0,3 persen ke area 101,86 setelah yield Treasury AS mulai menjauh dari puncaknya.
EUR/USD sempat menguat ke sekitar 1,1259 setelah tekanan terhadap pasar obligasi Prancis mulai sedikit mereda. Sentimen euro membaik setelah muncul rencana pengurangan defisit dan belanja pemerintah dari kandidat presiden Prancis Marine Le Pen, meskipun masalah fiskal Prancis masih menjadi perhatian utama pasar.
Kondisi fiskal Prancis masih cukup berat dengan defisit diperkirakan sekitar 5,4 persen terhadap GDP dan utang publik mendekati 120 persen. Karena itu, pemulihan euro saat ini masih rentan terhadap perubahan sentimen pasar obligasi Eropa.
Yen Jepang masih berada di bawah tekanan dengan USD/JPY bertahan di area tinggi, sementara pasar secara keseluruhan mulai lebih memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve setelah peluang kenaikan suku bunga Oktober turun tajam.
Fokus berikutnya tertuju pada risalah FOMC yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai seberapa besar dukungan pejabat Fed terhadap kenaikan suku bunga tambahan.
RISIKO HORMUZ KEMBALI ANGKAT MINYAK MESKI PASOKAN TIMUR TENGAH MEMBAIK
Harga minyak kembali bergerak naik setelah meningkatnya serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.
WTI bergerak mendekati 90 dolar per barel, sementara Brent sebelumnya ditutup di sekitar 101 dolar per barel. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz meningkat sejak akhir September dan membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan distribusi minyak.
Iran masih mempertahankan sikap bahwa Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya dibuka sebelum tuntutannya terhadap Amerika Serikat dipenuhi. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi.
Di sisi lain, pasokan dari Timur Tengah menunjukkan perbaikan. Ekspor dari kawasan Teluk kembali mendekati tingkat sebelum perang, sementara jalur pengiriman alternatif mulai membantu mengurangi tekanan terhadap suplai.
Konflik di Yaman juga masih menjadi perhatian setelah kelompok Houthi melakukan serangan terhadap sejumlah target Saudi, termasuk fasilitas Aramco. Namun pasukan yang didukung Saudi berhasil mengambil kembali beberapa wilayah penting di sekitar Laut Merah.
Persediaan minyak AS juga dilaporkan turun sekitar 2,09 juta barel setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kenaikan. Kondisi tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap harga minyak.
GOLD BERTAHAN DI AREA 4.160 DOLAR SEIRING TEKANAN YIELD MULAI MEREDA
Harga emas bertahan di sekitar 4.160 dolar per ounce setelah sebelumnya naik sekitar 0,6 persen. Penurunan yield Treasury memberikan sedikit ruang bagi emas untuk melakukan pemulihan.
Yield Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,28 persen setelah sebelumnya menembus 5,35 persen, level tertinggi sejak 2002. Penurunan yield mengurangi opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober juga terus menurun. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan kurang dari 20 persen, jauh lebih rendah dibanding sekitar 40 persen satu minggu sebelumnya.
Pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah juga membantu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap inflasi energi, sehingga mengurangi tekanan terhadap kebijakan Fed.
Namun gold belum sepenuhnya keluar dari tekanan karena yield masih berada di level tinggi dan dolar tetap relatif kuat. Harga emas juga masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami penurunan besar selama beberapa bulan terakhir.
Risalah FOMC akan menjadi katalis berikutnya. Nada Fed yang lebih dovish dapat membantu gold melanjutkan pemulihan, sementara komentar hawkish berpotensi kembali menekan harga.
S&P 500 DAN NASDAQ CETAK REKOR BARU DIDUKUNG SAHAM AI
Wall Street kembali mencatat rekor baru. S&P 500 naik sekitar 0,6 persen ke 7.818,93 dan untuk pertama kalinya ditutup di atas 7.800. Nasdaq Composite naik sekitar 0,5 persen ke 27.599,79 dan mencetak rekor penutupan untuk dua sesi berturut-turut.
Sektor teknologi dan artificial intelligence masih menjadi motor utama penguatan pasar. Saham AMD dan Marvell menguat karena optimisme terhadap permintaan chip untuk pembangunan infrastruktur AI, sementara Nvidia tetap berada dekat valuasi pasar 6 triliun dolar.
Sentimen AI juga mendapat dukungan dari sektor energi. Constellation Energy melonjak setelah mengumumkan kesepakatan pasokan listrik jangka panjang dengan Google, menunjukkan meningkatnya kebutuhan energi untuk pengembangan data center.
Penurunan yield Treasury turut membantu saham karena mengurangi tekanan terhadap valuasi perusahaan teknologi.
Namun pasar masih menghadapi risiko dari tingginya biaya pendanaan dan potensi kenaikan inflasi akibat energi. Investor kini menunggu risalah FOMC serta dimulainya musim laporan keuangan kuartal ketiga sebagai katalis berikutnya.
DOLAR MULAI KOREKSI SETELAH RELI PANJANG DAN TURUNNYA YIELD TREASURY
Dollar Index turun ke sekitar 101,86 setelah sebelumnya berada dekat level tertinggi hampir 18 bulan.
Koreksi dolar terjadi setelah yield Treasury AS mulai turun dari level tertingginya. Yield tenor 10 tahun berada di sekitar 5,28 persen setelah sebelumnya menembus 5,35 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober juga terus melemah. Pasar memperkirakan sekitar 80 persen peluang bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Data tenaga kerja dan inflasi yang lebih lemah sebelumnya memberikan Fed ruang untuk menunggu sebelum kembali melakukan pengetatan.
Meski mengalami koreksi, dolar belum kehilangan seluruh dukungannya. Yield AS masih jauh lebih tinggi dibanding banyak negara maju lainnya, sementara masalah fiskal Eropa tetap memberikan dukungan relatif terhadap greenback.
Arah berikutnya akan sangat bergantung pada risalah FOMC. Jika Fed menunjukkan kekhawatiran lebih besar terhadap pelemahan ekonomi dan pasar tenaga kerja, dolar berpotensi melanjutkan koreksi. Sebaliknya, sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih diperlukan dapat kembali mengangkat dolar.
MARKET OUTLOOK
SENTIMEN RISK ON BERLANJUT, TAPI PASAR MASIH MENANTI ARAH FED
Secara keseluruhan, sentimen pasar masih cukup positif setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor baru, didukung sektor teknologi dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed. Penurunan yield memberikan ruang pemulihan bagi gold dan sedikit menekan dolar, sementara oil kembali mendapat dukungan dari meningkatnya risiko di Selat Hormuz. Fokus utama pasar berikutnya tertuju pada risalah FOMC dan musim laporan keuangan untuk menentukan apakah tren risk on dapat berlanjut.
