MARKET
Jumat, 23 Oktober 2026
NASDAQ ANJLOK, INVESTOR MULAI PERTANYAKAN BIAYA BESAR INVESTASI AI
Aksi jual saham teknologi mendorong sentimen risk off setelah investor mempertanyakan return investasi AI, sementara Brent bertahan di atas 113 dolar, gold jatuh ke level terendah tiga bulan dan yen menguat seiring turunnya yield Treasury.
YEN MENGUAT TAJAM, DOLAR TERTEKAN SENTIMEN RISK OFF DAN TURUNNYA YIELD
Pasar mata uang bergerak defensif setelah aksi jual besar pada saham teknologi mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Dollar Index turun sekitar 0,2 persen ke area 101,61.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang paling kuat dengan USD/JPY turun menuju sekitar 156,80, level terkuat yen dalam lima minggu. Selain aliran safe haven, pasar juga semakin berhati hati mengambil posisi long dolar terhadap yen karena risiko intervensi otoritas Jepang ketika kurs mendekati area 158.
Perhatian investor kini mulai beralih ke pertemuan Bank of Japan pekan depan. BOJ diperkirakan masih mempertahankan suku bunga, tetapi proyeksi inflasi terbaru dan komentar Gubernur Kazuo Ueda akan menjadi perhatian utama untuk melihat kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.
EUR/USD bertahan sedikit di atas 1,12. Euro mendapat sedikit manfaat dari pelemahan dolar, tetapi penguatan masih terbatas karena kondisi fiskal dan politik Prancis tetap menjadi risiko besar.
Dengan keputusan Fed, ECB dan BOJ berlangsung berdekatan pekan depan, volatilitas pasar mata uang berpotensi meningkat.
BRENT MENEMBUS 113 DOLAR, RISIKO TIMUR TENGAH JAGA TEKANAN PASOKAN
Harga minyak masih bertahan dekat level tertinggi lima bulan. Brent berada di sekitar 113 dolar per barel, sementara WTI bergerak dekat 100 dolar.
Kenaikan tajam sebelumnya dipicu oleh meningkatnya kembali serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk fasilitas energi, bandara dan sejumlah lokasi pemerintahan.
Ketegangan di Selat Hormuz juga belum mereda. Iran masih melakukan serangan terhadap kapal yang melintasi jalur tersebut, sehingga risiko gangguan terhadap salah satu jalur energi terpenting dunia tetap tinggi.
Pasar juga mencermati laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel mempertimbangkan tindakan militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada awal November.
Harga oil mengalami sedikit koreksi setelah Presiden Donald Trump membuka jalan bagi peningkatan produksi minyak dan gas AS melalui Defense Production Act. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan produksi domestik dan menekan harga energi.
Namun dampaknya terhadap pasokan tidak akan langsung terlihat. Selama gangguan Timur Tengah masih berlangsung, premi risiko geopolitik diperkirakan tetap menjaga harga oil di level tinggi.
GOLD JATUH KE LEVEL TERENDAH TIGA BULAN, MINYAK TINGGI DAN SUKU BUNGA MENJADI TEKANAN
Harga emas kembali mengalami tekanan besar dan turun menuju sekitar 4.014 dolar per ounce, level terendah sejak Juli.
Gold turun sekitar 2,8 persen pada sesi sebelumnya dan menuju penurunan mingguan lebih dari 3,5 persen.
Tekanan utama berasal dari lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Brent yang berada di sekitar 113 hingga 114 dolar membuat pasar memperkirakan bank sentral harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meskipun emas biasanya dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, yield dan suku bunga yang tinggi meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa bunga.
Data CPI dan PPI AS yang sebelumnya lebih tinggi dari perkiraan juga semakin memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi belum sepenuhnya terkendali.
Pasar masih memperkirakan Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi probabilitas kenaikan pada Desember berada di sekitar 78 persen.
Karena itu, gold masih membutuhkan penurunan yield atau meredanya tekanan inflasi sebelum mampu membentuk pemulihan yang lebih kuat.
NASDAQ ANJLOK 2,6 PERSEN, PASAR MULAI PERTANYAKAN BIAYA BESAR INVESTASI AI
Wall Street mengalami tekanan besar setelah investor semakin mempertanyakan besarnya modal yang dibutuhkan untuk pengembangan artificial intelligence.
Nasdaq Composite turun sekitar 2,6 persen dan mencatat penurunan harian terbesar sejak Juni. S&P 500 melemah sekitar 1,2 persen, sementara Dow Jones relatif datar karena investor beralih dari saham growth menuju sektor yang lebih defensif.
Sektor semikonduktor menjadi pusat tekanan. Philadelphia Semiconductor Index jatuh sekitar 6,7 persen, juga menjadi penurunan terbesar sejak Juni.
Meta turun hampir 7 persen setelah perusahaan melaporkan arus kas keluar pertama dalam lebih dari satu dekade akibat tingginya pengeluaran terkait AI. Rencana penerbitan saham tanpa hak suara untuk membantu membiayai ekspansi juga menambah kekhawatiran investor.
Tesla turut turun sekitar 3,1 persen setelah memangkas proyeksi capital expenditure 2026, menambah ketidakpastian mengenai kecepatan ekspansi AI dan robotik perusahaan.
Tekanan tersebut menunjukkan pasar mulai mengubah fokus dari sekadar pertumbuhan AI menuju pertanyaan yang lebih penting yaitu kapan investasi besar tersebut mulai menghasilkan return yang memadai.
Earnings perusahaan teknologi berikutnya akan menjadi ujian penting apakah koreksi ini hanya sementara atau menjadi awal revaluasi yang lebih besar terhadap sektor AI.
DOLAR TERTEKAN SAAT INVESTOR BERPINDAH KE OBLIGASI DAN YEN
Dollar Index turun ke sekitar 101,61 setelah aksi jual saham teknologi mendorong investor melakukan rotasi menuju obligasi pemerintah dan yen Jepang.
Yield Treasury 10 tahun turun hampir 20 basis poin ke sekitar 4,95 persen, menjadi salah satu penurunan harian terbesar sejak Maret 2023.
Penurunan yield mengurangi sebagian daya tarik dolar setelah sebelumnya penguatan greenback banyak didukung oleh tingginya imbal hasil obligasi AS.
Namun dolar belum kehilangan seluruh dukungannya. Harga minyak yang tinggi tetap menjaga risiko inflasi, sementara pasar masih memperkirakan Fed akan mempertahankan kebijakan ketat dalam beberapa bulan ke depan.
Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi komentar Jerome Powell pengganti Kevin Warsh serta pandangan mengenai inflasi dan kemungkinan kenaikan Desember akan sangat menentukan arah dolar berikutnya.
Untuk sementara, Dollar Index masih berada dalam fase konsolidasi dengan risiko volatilitas meningkat menjelang keputusan bank sentral pekan depan.
MARKET OUTLOOK
**SENTIMEN RISK OFF MENINGKAT, PASAR MULAI MERAGUKAN VALUASI AI*
Secara keseluruhan, sentimen pasar berubah lebih defensif setelah aksi jual besar saham teknologi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pembiayaan investasi AI. Oil tetap berada di level tinggi akibat risiko Timur Tengah, sehingga tekanan inflasi masih kuat dan gold jatuh ke level terendah tiga bulan. Dolar melemah bersama penurunan yield, sementara yen mendapat aliran safe haven. Fokus pasar berikutnya tertuju pada keputusan Fed, ECB dan BOJ serta laporan keuangan perusahaan teknologi untuk melihat apakah tekanan terhadap sektor AI akan berlanjut.
