MARKET
Selasa, 13 Oktober 2026
PASAR MENANTI CPI DAN EARNINGS, DOLAR TETAP KUAT
Investor mulai menahan posisi menjelang data inflasi AS dan musim laporan keuangan, sementara dolar tetap kuat, gold tertekan yield tinggi dan oil masih rentan terhadap perkembangan konflik Timur Tengah.
DOLAR TETAP KUAT JELANG DATA INFLASI AS, EURO MASIH DIBAYANGI RISIKO FISKAL
Pasar mata uang masih bergerak hati hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Dollar Index berada di sekitar 102,54 dan masih bertahan dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kekuatan dolar masih didukung oleh tingginya yield obligasi, risiko geopolitik, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve masih dapat menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi sebelum akhir tahun.
Di Eropa, tekanan terhadap euro sedikit mereda setelah yield obligasi Prancis dan Jerman turun. Penurunan harga minyak sebelumnya membantu mengurangi kekhawatiran inflasi dan memberikan sedikit ruang bagi pasar obligasi Eropa untuk pulih.
Namun masalah fiskal Prancis belum benar benar selesai. Pasar masih meragukan kemampuan pemerintah menekan defisit yang diperkirakan sekitar 5,4 persen terhadap GDP.
Fokus utama pasar valuta asing kini tertuju pada CPI AS. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali mengangkat dolar dan yield, sementara inflasi yang lebih lunak dapat membuka ruang koreksi bagi greenback.
MINYAK MULAI TURUN, TAPI KONFLIK TIMUR TENGAH MASIH MENJAGA RISIKO PASOKAN
Harga minyak mengalami koreksi setelah muncul harapan peningkatan pasokan dari Rusia. Brent bergerak di sekitar 105,72 dolar per barel, sementara WTI turun ke sekitar 92,92 dolar.
Rusia menyatakan ekspor diesel dapat meningkat melebihi jumlah yang sebelumnya disebutkan dalam kesepakatan pasokan dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut memberikan harapan bahwa ketatnya pasokan bahan bakar global mulai dapat berkurang.
Namun harga oil masih bertahan relatif tinggi karena konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda benar benar mereda.
Kelompok Houthi kembali menyerang infrastruktur sipil dan energi di Arab Saudi, sementara Amerika Serikat mempertimbangkan dukungan tambahan kepada Riyadh.
Konflik AS Iran terkait Selat Hormuz juga masih belum terselesaikan. Aktivitas pelayaran sempat membaik pada September, tetapi serangan baru kembali mengganggu arus minyak pada Oktober.
Dengan kondisi tersebut, oil masih berada di antara dua kekuatan utama yaitu pemulihan pasokan global dan risiko geopolitik. Selama konflik belum mereda, potensi volatilitas tinggi masih tetap ada.
GOLD MASIH TERTEKAN JELANG CPI, RISIKO INFLASI ENERGI BATASI PENGUATAN
Harga emas masih bergerak di sekitar 4.160 hingga 4.170 dolar per ounce setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.
Faktor utama yang membatasi penguatan gold adalah tingginya harga energi dan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama. Kondisi ini menjaga peluang bahwa Federal Reserve masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 20 persen, tetapi masih memperhitungkan kemungkinan satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.
Komentar pejabat Fed juga menunjukkan bahwa bank sentral belum sepenuhnya nyaman dengan kondisi inflasi. Cleveland Fed President Beth Hammack menilai penyesuaian suku bunga yang lebih kecil namun lebih sering dapat membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Gold juga masih menghadapi tekanan dari tingginya yield obligasi global. Selama yield tetap tinggi, daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga akan tetap terbatas.
CPI AS menjadi katalis utama berikutnya. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menekan gold lebih lanjut, sedangkan data yang lebih lunak dapat memberikan ruang pemulihan.
WALL STREET MULAI HATI HATI JELANG EARNINGS DAN DATA INFLASI
Pasar saham AS bergerak lebih hati hati setelah reli panjang membawa indeks utama mendekati level tertinggi.
S&P 500 Futures turun tipis sekitar 0,1 persen, Nasdaq 100 Futures melemah sekitar 0,2 persen, sementara Dow Jones Futures naik sekitar 0,1 persen.
Pada perdagangan sebelumnya, Dow Jones naik sekitar 0,4 persen, sedangkan S&P 500 turun tipis dan Nasdaq melemah sekitar 0,5 persen. Saham teknologi, terutama sektor chip, mendapat tekanan setelah investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham growth menjelang laporan keuangan dan data inflasi.
Fokus pasar sekarang beralih ke musim laporan keuangan kuartal ketiga. JPMorgan, Goldman Sachs, Citigroup, Wells Fargo, UnitedHealth, dan Johnson & Johnson menjadi beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerja.
Investor akan menilai apakah pertumbuhan laba masih cukup kuat untuk mendukung valuasi saham yang sudah tinggi.
Selain earnings, CPI AS akan menjadi faktor penting karena inflasi yang kembali meningkat dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan memberikan tekanan baru terhadap saham teknologi.
DOLAR BERTAHAN KUAT, CPI AS JADI PENENTU ARAH BERIKUTNYA
Dollar Index masih bertahan di sekitar 102,5 dan tetap mendapat dukungan dari tingginya yield obligasi serta ekspektasi kebijakan Fed yang masih ketat.
Meski peluang kenaikan suku bunga pada Oktober relatif rendah, pasar masih memperkirakan adanya satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.
Kondisi tersebut membuat dolar tetap memiliki keunggulan dibanding banyak mata uang utama lainnya.
Risiko geopolitik di Timur Tengah juga mendukung permintaan terhadap dolar sebagai aset defensif, terutama ketika harga minyak tetap tinggi dan pasar obligasi masih volatil.
Namun arah dolar berikutnya akan sangat bergantung pada data CPI AS. Inflasi yang tetap tinggi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong dolar lebih tinggi. Sebaliknya, inflasi yang melemah dapat mengurangi tekanan Fed dan membuka ruang koreksi.
MARKET OUTLOOK
PASAR MENAHAN POSISI JELANG CPI DAN MUSIM EARNINGS
Secara keseluruhan, pasar masih berada dalam fase hati hati. Oil mulai terkoreksi karena harapan peningkatan pasokan, tetapi risiko geopolitik tetap tinggi. Gold masih tertahan oleh yield dan kekhawatiran inflasi, sementara dolar tetap kuat menjelang data CPI AS. Saham mulai konsolidasi setelah reli panjang karena investor menunggu laporan keuangan perusahaan besar dan kepastian arah kebijakan Fed. CPI dan earnings akan menjadi penentu utama pergerakan pasar berikutnya.
